20160131

Ahli Sufi (menurut Qur'an-Hadits)

Para sufi memiliki peranan penting dalam mengemban amanah sebagai Waratsah Al-‘Anbiya (Pewaris Para Nabi), hal ini telah dijelaskan oleh Rasullah SAW.,: Al Ulama’ Warastul ‘Anbiya (“Para Ulama’ adalah Pewaris Para Nabi” (Hadits).

Para Sufi sebagai generasi penerus para Nabi akan melanjutkan misi ke-Rosulan Nabi Muhammad SAW., yaitu:
1.Membimbing akhlaq umat manusia dari tercela menjadi akhlaq mulia. Sebagaimana dijelaskan dalam Hadits: “Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlaq” (Hadits).
2.Menyebarkan Islam sebagai agama Rohmatan lil’Alamin yaitu agama yang membawa perdamaian kepada dunia, sebagaimana tertuang dalam QS. Al-Anbiya’: 107 yang artinya: “Dan Kami tidak mengutusmu kecuali membawa rohmat bagi alam semesta”.

Dalam merealisasikan misi tersebut para sufi dalam dakwahnya menggunakan pendekatan Bi-l-Hikmah Wa-Imau’izah Hasanah yaitu pendekatan dakwah yang humanis dan bijak (wisdom). Dengan menggunakan pendekatan tersebut Islam yang disebarkan para sufi mudah diterima oleh masyarakat tanpa melalui kekerasan dan perang. Terbukti para sufi menyebarkan Islam ke penjuru dunia secara damai dari jazirah Arab, Afrika, Asia Timur, Asia Selatan, Asia Tenggara, Eropa, Eropa Timur hingga Amerika.

Nilai-nilai humanis universal yang berbasis pada spiritualitas dan moralitas menjadi nilai dasar (basic value) yang dipegang oleh para sufi. Nilai-nilai universal ini memiliki relevansi sepanjang masa bahkan mampu menjawab segala bentuk tantangan jaman. Dewasa ini penduduk dunia sedang dilanda krisis multidimensi baik terkait ekonomi, moral, keagamaan, kemanusiaan dan politik. Namun semua krisis tersebut dapat dijawab dan diatasi melalui implementasi nilai-nilai universal tasawuf yang diajarkan oleh para sufi.

Pertama, Krisis Kebermaknaan Hidup yang diakibatkan oleh kemoderenan yang berorientasi pada sikap dan gaya hidup materialism, hedonisme dan konsumerisme. Hal ini menyebabkan manusia dihinggapi rasa cemas, gelisah dan merasa teralienasi atau terasing dari hidupnya sendiri. Fenomena ini terjadi di dunia Barat dimana mereka mengalami krisis kebermaknaan hidup yang menyebabkan mereka meninggalkan agamanya untuk mencari jawabannya, ternyata kegalauan mereka dapat dijawab setelah mereka mengkaji tasawuf. Para pengkaji tasawuf di barat semakin tumbuh subur berkembang jumlahnya bahkan mereka membentuk komunitas pengkaji tasawuf tokoh-tokoh besar seperti Ibn’Arabi, Rumi, Al-Ghazali dan lainnya. Selain itu beberapa thariqah juga berkembang di barat dan diikuti oleh semua kalangan baik di Eropa maupun Amerika Serikat.

Kedua, Krisis Lingkungan Hidup yang diakibatkan keserakahan dan ketamakan manusia dalam mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumber daya alam secara membabi buta tanpa memikirkan upaya konservasi sehingga menyebabkan terjadinya berbagai musibah dan bencana alam, seperti: banjir, gempa bumi, gunung meletus dan pemanasan global. Ini merupakan dampak dari sikap manusia yang dikuasai oleh sifat tama’ dan hirsh (ambisi) bahkan dunia dan seisinya masih terasa kurang bagi orang yang dihinggapi penyakit tama’ dan ambisi. Dalam hal ini, para sufi sudah memberikan solusi yaitu hidup dengan qana’ah dan zuhud. Namun zuhud yang dimaksud bukan zuhud pasif atau eskapisme yaitu lari dari kehidupan dunia dengan memilih hidup secara pasif dengan melakukan kontemplasi, melainkan zuhud yang menjaga hati dari kecintaan dan ketergantungan dengan materi. Sedangkan kegiatan dan aktifitasnya bias sebagai professional, birokrasi, pengusaha dan lainnya.

Ketiga, Krisis Ekonomi yang diakibatkan oleh sistem kapitalisme yang rakus dan serakah menyebabkan terjadinya krisis ekonomi yang mengguncang dunia, tidak lain sebagai pemicu krisis ekonomi yaitu dominasinya sifat serakah dan rakus. Padahal para sufi sudah mengajarkan supaya bersikap jujur, adil dan qana’ah.

Keempat, Krisis Kemanusiaan yang diakibatkan oleh persoalan politik dan imperalisme modern yang menyebabkan terjadinya konflik politik dan keagamaan diberbagai belahan dunia. Hal ini sebagaimana terjadi dinegara-negara Islam seperti Palestina, Irak, Afganistan, Pakistan, Sudan, Libya, Syuriah dan Negara lainnya. Krisis kemanusiaan universal yang dilindungi oleh agama dan Negara. Dalam hal ini, para sufi telah mengajarkan pentingnya sifat lembut dan kasih sayang kepada sesama manusia.

Para sufi adalah para pengamal thariqah yaitu sebagai jalan menuju Allah SWT., yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah Rasul. Thariqah memiliki sistem yang terkait dengan silsilah atau sanad yang sampai kepada Allah SWT., melalui Jibril AS., dan Baginda Nabi SAW. Dari Nabi Muhammad SAW., turun kepada para sahabat, tabi’in, tabi’ut-tabi’in dan seterusnya. Thariqah memiliki ikatan spiritual yang kuat antara thariqah satu dengan thariqah yang lainnya karena memiliki landasan dan sumber yang sama, sekalipun terkadang ada sedikit perbedaan. Landasan thariqah bersumber pada Rasulullah SAW., baik terkait dzikir maupun prakteknya. Para thariqin senantiasa berpegang pada konsep ihsan artinya bersembah sujud kepada yang serba Maha dengan segala sifat-Nya, seolah-olah kita melihat-Nya, apabila tidak mampu maka kita merasa dilihat dan didengar oleh-Nya. Bilamana hal tersebut dihayati dan tumbuh pada setiap manusia yang beriman maka thariqah dapat berimplikasi yang dirasakan para ahlith thariqah yaitu memperoleh keberkahan dan ketenangan hidup. Hal ini telah dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an (QS. Jin: 16) yaitu:

“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus pada jalan (Thariqah) niscaya aku akan memberikan minum mereka air yang segar (yaitu rizqi yang berkah yang membawa ketentraman dan ketenangan hidup)”.

Bagi para pengamal thariqah akan memperoleh kedamaian lahir-batin, berawal dari rizqi yang berkah akan berimbas pada munculnya kedamaian, keamanan yang kondusif, perekonomian yang tumbuh-berkembang dan pendidikan berkualitas dan mencerdaskan. Dengan demikian akan melahirkan tunas-tunas bangsa yang menjunjung tinggi hak azasi manusia, para intelektual yang memiliki sikap toleransi, ilmuwan yang membanggakan dan menjadi harapan bangsa. Namun demikian, mereka harus terlepas dan terbebas dari segala bentuk kepentingan politik dan lainnya.

Dengan demikian, thariqah benar-benar murni, menjadi pencerah dan juru damai. Karena itu, sudah saatnya para sufi di abad sekarang ini ikut berperan aktif mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh dendam dan benci dan merajut kembali taliUkhuwah Islamiyah yang tercerai-berai oleh persoalan perbedaan mazhab, sekte dan politik. Sudah saatnya para sufi mengambil peran strategis ini sebagai penengah atas segala perbedaan dan konflik dan sekaligus sebagai penjaga moral dan keteladanan dalam menciptakan perdamaian dunia. Namun demikian, mereka butuh wadah organisasi intrnasional yang menjadi rumah bersama bagi para sufi sedunia.

foto: Pesarehan Habib Hasyim bin Yahya

0 comments:

Post a Comment

Design by Miftahul Huda Media Center Visit Original Post Copyright 2012