Showing posts with label Kisah Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Kisah Tokoh. Show all posts

20121005

Imam Filsuf Sufi

Dunia Islam telah melahirkan para tokoh besar dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bahkan diantaranya tak bisa ditandingi oleh tokoh-tokoh cendekiawan dari dunia luar, baik ahli hukum, filsuf maupun para fisikawan dan astronom serta matematikawannya. Dunia Barat sungguh berutang budi pada dunia Islam.

Tokoh paling unik, filsuf besar, ahli tafsir paling teosofik, dan seorang imam para filsuf sufi  setelah Hujjatul Islam al-Ghazali, seorang ulama Islam yang jumlah karya-karyanya tak tertandingi oleh ulama Islam mana pun. Ia adalah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Hatim, saudaraAdy bin Hatim ath-Tha'y. Kemudian ia biasa dipanggil dengan Abu Bakr, Abu Muhammad dan Abu Abdullah. Namun gelarnya yang terkenal adalah Ibnu 'Araby Muhyiddin, dan al-Hatamy. Selain itu, ia juga mendapat gelar sebagai Syeikhul Akbar, dan Sang Kibritul Ahmar. Walaupun lahir di Andalusia, namun bernasab Arab.

Riwayat Penyusun Kitab Maulid Simthud Duror

Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi
(Berikut ini adalah riwayat hidup penyusun kitab maulid Simthud Durar (Untaian Mutiara) yang diambil dari situs alawiyin).
Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi dilahirkan pada hari Juma’at 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut. Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.
Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu, beliau diizinkan oleh para guru dan pendidik nya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.
Selanjutnya, beliau melaksanakan tugas-tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.
Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid “Riyadh” di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.

20121002

Peninggalan Nabi Muhammad SAW











Makam Para Nabi

Nabi Harun AS
















Nabi Sholeh AS













Nabi Syu'aib AS












Nabi Luth AS

















Nabi Yahya AS













Nabi Zakaria AS















Profil Singkat Imam Ghozali

Sosok yang luar biasa dalam sejarah Islam salah satunya adalah Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Ahmad, dilahirkan pada tahun 450 H/ 1059 di Thus daerah Khurasan. Ia dikenal dengan Al - Ghazali karena ayahnya pemintal tenun wol atau karena ia berasal dari desa Ghazalah. Beliau wafat pada tahun 505 H / 1111.
Pendidikannya dimulai didaerahnya yaitu belajar kepada Ahmad Ibnu Muhammad al - Razkani al - Thusi, setelah itu pindah ke Jurjan ke pendidikan yang dipimpin oleh Abu Nash al-Ismaili mempelajari semua bidang agama dan bahasa, setelah tamat kembali ke Thus belajar tasawuf dengan Syekh Yusuf al - Nassaj (wafat 487 H) , kemudian ke Nisyapur belajar kepada Abul Ma'al al-Juwaini yang bergelar Imam al - Haramain dan melanjutkan pelajaran Tasawuf kepada Syekh Abu Ali al - Fadhl Ibnu Muhammad Ibnu Ali al - Farmadi, dan ia mulai mengajar dan menulis dalam Ilmu Fiqh.
 Setelah Imam al - Juwaini wafat ia pindah ke Mu'askar mengikuti berbagai forum diskusi dan seminar kalangan ulama dan intelektual dan dengan segala kecermelangannya membawanya menjadi guru besar di perguruan Nidzamiyah di Baghdad pada tahun 484 H, disamping memberikan kuliah, ia juga mengkaji filsafat Yunani dan filsafat Islam. Kecermelangan, keharuman namanya dan kesenangan duniawi yang melimpah ruah di Baghdad melebihi ketika ia di Mu'askar, dikota ini ia sakit dan secara tiba-tiba meninggalkan Baghdad mengundurkan diri dari kegemerlapan duniawi tersebut.
Mulai th 488 H/ 1095 ia ke Damaskus. di Masjid Umawi ia ber'itiqaf dan berzikir dipuncak menara sebelah barat sepanjang hari dengan makan dan minum yang terbatas. Ia memasuki suluk sufi dengan riyadhah dan mujahadah terus menerus seperti itu selama 2 tahun di Damaskus. Setelah itu pergi ke Baitul Maqdis di Palestina, setiap hari ia masuk Qubbah Shahrah untuk berzikir, ia juga ke al - Khalil berziarah ke makam Nabi Ibrahim as. Setelah dari Palestina, ia melaksanakan ibadah haji di Mekkah dan berziarah ke makam Rasullulah di Madinah.

20110515

MUI: Lihat Kaitan Pemimpin Al Zaytun & NII KW 9, Jangan Asal Datang

Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) masih berpegang pada penelitiannya pada 2002, bahwa ada keterkaitan pemimpin Al Zaytun dengan NII KW 9. Menurut MUI, untuk membuktikan keterkaitan itu tidak bisa dilakukan hanya dengan asal datang ke Ma'had Al Zaytun.

"Dari penelitian kami pada 2002, ada keterkaitan kepemimpinan dan finansial. Untuk klarifikasi itu tidak hanya asal datang. Perlu auditing pada keuangannya dari dulu dan sekarang. Sumbernya itu bagaimana," ujar Ketua MUI, Amidhan, saat dihubungi detikcom, Jumat (13/5/2011).
Yang dimaksud "asal datang" adalah kunjungan Menteri Agama Suryadharma Ali pada Rabu 11 Mei ke Al Zaytun. Kedatangan Surya yang sudah direncanakan jauh hari itu disambut meriah. Hasil kunjungan itu adalah tidak ada yang aneh di Al Zaytun.

20100913

Sunan Kalijaga dalam Sejarah

Menurut buku Babat Tanah Jawa, bahwa Sunan Kalijaga itu bernama asli Raden Sahid atau Jaka Setya. Raden Said adalah seorang putra Adipati Tuban yaitu Tumenggung Wilatikta. Menurut catatan silsilahnya, Raden Sahid adalah keturunan Adipati Tuban yang pertama yaitu Rangga Lawe atau Aria Adikara yang berputra Aria Teja I yang berputra Aria Teja II, berputra Aria Teja III, berputra Raden Tumenggung Wilatikta yang berputra Raden Said (Sunan Kalijaga).

Adapun Aria Teja I dan II itu masih memeluk agama Hindu, sedang Aria Teja III dan Raden Tumenggung Wilatikta sudah memeluk agama Islam. Maka pantas jika Raden Said sejak kecil sudah mendapat gemblengan dan pelajaran agama Islam dari orang tuanya.

Alkisah di tengah kegelapan malam itu, seorang pemuda mengendap-endap memasuki salah satu gudang milik Kadipaten Tuban, disana tertimbun bahan makanan dan barang-barang lainnya yang siap dikirim ke Majapahit. Tuban adalah salah satu daerah taklukan Majapahit. Setiap bulan Tuban harus mengirim upeti alias pajak ke Majapahit. Dengan sepenuh tenaga ia bongkar isi gudang itu seorang diri, kemudian barang-barang jarahan itu ia taruh di depan pintu rumah-rumah para penduduk miskin yang kelaparan. Hal itu dilakukan berulang-ulang, sampai pada suatu hari penjaga gudang curiga karena barang-barangnya berkurang, tapi ia takut melaporkannya kepada sang Adipati karena takut dikira ceroboh atau salah-salah malah dituduh sebagai pencuri.
Design by Miftahul Huda Media Center Visit Original Post Copyright 2012