Tokoh paling unik, filsuf besar, ahli tafsir paling
teosofik, dan seorang imam para filsuf sufi setelah Hujjatul Islam al-Ghazali, seorang
ulama Islam yang jumlah karya-karyanya tak tertandingi oleh ulama Islam mana
pun. Ia adalah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdullah
bin Hatim, saudaraAdy bin Hatim ath-Tha'y. Kemudian ia biasa dipanggil dengan
Abu Bakr, Abu Muhammad dan Abu Abdullah. Namun gelarnya yang terkenal
adalah Ibnu 'Araby Muhyiddin, dan al-Hatamy. Selain itu, ia juga mendapat gelar
sebagai Syeikhul Akbar, dan Sang Kibritul Ahmar. Walaupun lahir di Andalusia, namun bernasab Arab.
Showing posts with label Kisah Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Kisah Tokoh. Show all posts
20121005
Imam Filsuf Sufi
Labels:
Kisah Tokoh,
Kitab-Buku,
Majlis Talim,
Materi Pilihan
Riwayat Penyusun Kitab Maulid Simthud Duror
Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi
(Berikut ini adalah riwayat hidup penyusun kitab maulid Simthud Durar (Untaian Mutiara) yang diambil dari situs alawiyin).
(Berikut ini adalah riwayat hidup penyusun kitab maulid Simthud Durar (Untaian Mutiara) yang diambil dari situs alawiyin).
Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi
dilahirkan pada hari Juma’at 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota di
negeri Hadhramaut. Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan
kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin
Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti
Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai
seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.
Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan
mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin
sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu. Oleh
karenanya, sejak itu, beliau diizinkan oleh para guru dan pendidik nya
untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan
khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat
perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap
orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majlis ilmu, lembaga
pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.
Selanjutnya, beliau melaksanakan tugas-tugas suci yang dipercayakan
padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang
sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para
siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka
dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.
Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid “Riyadh” di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.
Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid “Riyadh” di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.
Labels:
Kisah Tokoh,
Majlis Talim,
Materi Pilihan
20121002
Profil Singkat Imam Ghozali
Sosok yang luar biasa dalam sejarah Islam salah satunya adalah Abu
Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Ahmad, dilahirkan pada tahun 450 H/ 1059 di
Thus daerah Khurasan. Ia dikenal dengan Al - Ghazali karena ayahnya pemintal
tenun wol atau karena ia berasal dari desa Ghazalah. Beliau wafat pada tahun
505 H / 1111.
Pendidikannya
dimulai didaerahnya yaitu belajar kepada Ahmad Ibnu Muhammad al - Razkani al -
Thusi, setelah itu pindah ke Jurjan ke pendidikan yang dipimpin oleh Abu Nash
al-Ismaili mempelajari semua bidang agama dan bahasa, setelah tamat kembali ke
Thus belajar tasawuf dengan Syekh Yusuf al - Nassaj (wafat 487 H) , kemudian ke
Nisyapur belajar kepada Abul Ma'al al-Juwaini yang bergelar Imam al - Haramain
dan melanjutkan pelajaran Tasawuf kepada Syekh Abu Ali al - Fadhl Ibnu Muhammad
Ibnu Ali al - Farmadi, dan ia mulai mengajar dan menulis dalam Ilmu Fiqh.
Setelah
Imam al - Juwaini wafat ia pindah ke Mu'askar mengikuti berbagai forum diskusi
dan seminar kalangan ulama dan intelektual dan dengan segala kecermelangannya
membawanya menjadi guru besar di perguruan Nidzamiyah di Baghdad pada tahun 484
H, disamping memberikan kuliah, ia juga mengkaji filsafat Yunani dan filsafat
Islam. Kecermelangan, keharuman namanya dan kesenangan duniawi yang melimpah
ruah di Baghdad melebihi ketika ia di Mu'askar, dikota ini ia sakit dan secara
tiba-tiba meninggalkan Baghdad mengundurkan diri dari kegemerlapan duniawi
tersebut.
Mulai
th 488 H/ 1095 ia ke Damaskus. di Masjid Umawi ia ber'itiqaf dan berzikir
dipuncak menara sebelah barat sepanjang hari dengan makan dan minum yang
terbatas. Ia memasuki suluk sufi dengan riyadhah dan mujahadah terus menerus
seperti itu selama 2 tahun di Damaskus. Setelah itu pergi ke Baitul Maqdis di
Palestina, setiap hari ia masuk Qubbah Shahrah untuk berzikir, ia juga ke al -
Khalil berziarah ke makam Nabi Ibrahim as. Setelah dari Palestina, ia
melaksanakan ibadah haji di Mekkah dan berziarah ke makam Rasullulah di
Madinah.
Labels:
Kisah Tokoh,
Materi Pilihan
20110515
MUI: Lihat Kaitan Pemimpin Al Zaytun & NII KW 9, Jangan Asal Datang
Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) masih berpegang pada penelitiannya pada 2002, bahwa ada keterkaitan pemimpin Al Zaytun dengan NII KW 9. Menurut MUI, untuk membuktikan keterkaitan itu tidak bisa dilakukan hanya dengan asal datang ke Ma'had Al Zaytun.
"Dari penelitian kami pada 2002, ada keterkaitan kepemimpinan dan finansial. Untuk klarifikasi itu tidak hanya asal datang. Perlu auditing pada keuangannya dari dulu dan sekarang. Sumbernya itu bagaimana," ujar Ketua MUI, Amidhan, saat dihubungi detikcom, Jumat (13/5/2011).
Yang dimaksud "asal datang" adalah kunjungan Menteri Agama Suryadharma Ali pada Rabu 11 Mei ke Al Zaytun. Kedatangan Surya yang sudah direncanakan jauh hari itu disambut meriah. Hasil kunjungan itu adalah tidak ada yang aneh di Al Zaytun.
Labels:
Berita Pilihan,
Kisah Tokoh,
Malang
20100913
Sunan Kalijaga dalam Sejarah
Menurut buku Babat Tanah Jawa, bahwa Sunan Kalijaga itu bernama asli Raden Sahid atau Jaka Setya. Raden Said adalah seorang putra Adipati Tuban yaitu Tumenggung Wilatikta. Menurut catatan silsilahnya, Raden Sahid adalah keturunan Adipati Tuban yang pertama yaitu Rangga Lawe atau Aria Adikara yang berputra Aria Teja I yang berputra Aria Teja II, berputra Aria Teja III, berputra Raden Tumenggung Wilatikta yang berputra Raden Said (Sunan Kalijaga).
Adapun Aria Teja I dan II itu masih memeluk agama Hindu, sedang Aria Teja III dan Raden Tumenggung Wilatikta sudah memeluk agama Islam. Maka pantas jika Raden Said sejak kecil sudah mendapat gemblengan dan pelajaran agama Islam dari orang tuanya.
Alkisah di tengah kegelapan malam itu, seorang pemuda mengendap-endap memasuki salah satu gudang milik Kadipaten Tuban, disana tertimbun bahan makanan dan barang-barang lainnya yang siap dikirim ke Majapahit. Tuban adalah salah satu daerah taklukan Majapahit. Setiap bulan Tuban harus mengirim upeti alias pajak ke Majapahit. Dengan sepenuh tenaga ia bongkar isi gudang itu seorang diri, kemudian barang-barang jarahan itu ia taruh di depan pintu rumah-rumah para penduduk miskin yang kelaparan. Hal itu dilakukan berulang-ulang, sampai pada suatu hari penjaga gudang curiga karena barang-barangnya berkurang, tapi ia takut melaporkannya kepada sang Adipati karena takut dikira ceroboh atau salah-salah malah dituduh sebagai pencuri.
Labels:
Berita Pilihan,
Kisah Tokoh
Subscribe to:
Posts (Atom)














